Jumat, 30 September 2016

Dari Minggu ke Minggu

www.flp.or.id

Ada kenangan masa kecil yang terbawa hingga dewasa, dan itu terjadi pada banyak orang. Kejadian di masa lalu yang mempengaruhi pilihan hari ini. Suatu kenanganku di Minggu pagi ketika kanak dulu, terbawa hingga kini, di masa kuliah. Mungkin juga hingga di masa yang akan tiba. Salah satu kenanganku tentang FLP.

Satu dari beberapa kebiasaanku ketika kecil di Minggu pagi, menunggu kedatangan tanteku. Biasanya ia akan tiba setelah berbelanja di pasar tradisional yang tak jauh dari rumah ibuku. Menjelang kembali ke rumahnya, ia selalu mengajakku untuk ikut. Aku akan segera memandang ibuku. Jika ibuku mengangguk, aku akan bersorak, dan segera mengganti pakaian.

Hampir tiap Minggu aku ke rumah sana, lalu melongok dan menggapai ke kolong meja di ruang tamu, banyak majalah anak-anak bertumpuk. Kakak sepupuku yang empat tahun lebih tua memang suka membaca. Terkadang aku melirik pada rak buku miliknya. Beberapa komik dan buku cerita anak yang tersusun di sana juga kuambil dan kubaca.

Memasuki SMP, sepupuku mulai mengoleksi novel dan kumpulan cerpen. Sebenarnya mereka kalah pamor dibanding majalah dan komik. Tapi sepupuku tak lagi berlangganan majalah anak-anak dan membeli komik. Sementara koleksi novelnya makin bertambah. Suatu hari tak lagi kutemukan majalah, komik, atau buku cerita anak-anak yang belum pernah kubaca. Semuanya sudah pernah kusentuh. Dengan ragu aku mengambil salah satu novel tebal sepupuku itu. Kulihat judulnya. Story of Jogja. Novel tentang detektif SMP.

Setelah kubaca, ternyata menarik juga. Perlahan namun pasti aku mulai menyukai membaca novel dan buku kumpulan cerpen. Bacaanku tak lagi seputar majalah anak-anak atau komik saja. Saat kubolak-balik sampul novel-novel itu, sering kutemukan logo bertulis DAR! Mizan ataupun FLP. Secuplik tentang penulis yang berada di bagian belakang buku pun juga kubaca. Tertarik dan terpesona akan ceritanya, aku pun berpikir, aku juga ingin seperti mereka. Waktu kemudian membawaku berkeinginan menjadi penulis.

Aku mulai mencoba untuk menulis cerita. Tapi pendek-pendek, dan sebagian besar tak ada yang selesai kutulis. Entahlah, ketika itu keinginan untuk “menjadi seperti mereka”, para penulis itu, kuendapkan dulu. Namun jika ditanya apa cita-citaku, kutulis salah satunya ingin menjadi penulis.

Bertahun setelahnya, aku masih dengan bacaanku, dan dengan cerita-cerita yang kutulis sepatah-patah. Beberapa berhasil selesai sampai akhir. Kufermentasikan di buku atau komputer. Tak pernah kupublikasi. Ah, aku juga mulai menulis puisi. Di puisi, perasaan dan gagasan yang melintas dapat kutuangkan dengan beberapa kata saja. Namun aku masih menyimpan hasrat untuk menulis cerita, ia tak hilang dalam waktu.

Hingga akhirnya memasuki kuliah, di semester ketiga. Aku membaca pengumuman open recruitment komunitas menulis. Kulihat, tercantum logo FLP dengan buku terbuka dan sebuah noktah merah, seperti yang kulihat dulu di pagi Minggu pada buku-buku sepupuku. Buku yang membuatku ingin menjadi penulis cerita juga. Namun kali ini logo itu ada tambahan tulisan Sumbar di bawahnya. Aku membatin, aku harus daftar. Ini salah satu keinginanku sewaktu kecil. Kuputuskan untuk mengirim puisi sebagai salah satu syarat pendaftaran berupa karya.

Di hari open recruitment, entah itu hari Sabtu atau Minggu, materi berjalan hingga sore. Panitia mengenalkan apa itu FLP, kegiatannya, tentang dunia tulis-menulis, dan lain sebagainya. Saat mendekati senja, di penghujung acara MC mengumumkan karya terbaik dari peserta. Judul puisi dan namaku disebut. Ah puisiku terpilih jadi puisi terbaik di antara puisi lainnya. Bagaimana bisa? Dengan gugup aku maju ke depan, menerima sertifikat dan novel karya penulis FLP Sumbar sebagai hadiah. Minggu-mingguku selanjutnya diisi dengan mengikuti diskusi karya yang diadakan FLP. Sedikit banyak, ilmuku mulai bertambah. Hingga di satu Minggu, aku wisuda. Mengenakan toga dari karton berbungkus koran, resmi menjadi anggota komunitas Forum Lingkar Pena.

Diskusi-diskusi karya berjalan. Di taman kota, di sekretariat, juga di pustaka daerah. Kawan baru dan senior yang bagi-bagi ilmu dan motivasi. Aku tak tahu, ada sesuatu di sana, saat berada di antara mereka. Mungkin karena tak ada sistem senioritas, mungkin suasana terasa lebih mencair dan senior lebih menerima kami dengan tangan terbuka. Mungkin juga karena kami disatukan oleh kesukaan yang sama. Belum lagi kegiatan yang diadakan. Buka bersama anak panti asuhan. Menjadi panitia dalam “Parade dan Festival Sastra Anak” yang diadakan pustaka daerah. Suatu waktu lainnya kembali FLP Sumbar ditawari dalam “Pekan Literasi”. Salah satu rangkaian acaranya adalah mendengarkan dongeng yang diperuntukkan bagi anak SD. Aku kembali terlempar ke masa kecil. Sering aku sudah lupa akan dunia dongeng. Tapi siang itu, aku seperti dikembalikan ke suatu masa.

Banyak yang kudapatkan di sini. Lewat FLP juga, aku bisa menjadi kontributor buku yang akan diterbitkan pustaka daerah. Sementara sekitar Bulan Juli lalu, dalam suatu diskusi, aku mendapat materi tentang cerita anak oleh Mbak Naqiyyah Syam dari FLP Lampung. Akhirnya aku mulai beranikan untuk mengirimkan karyaku ke koran lokal. Dua minggu kemudian, saat itu Bulan Ramadhan, cerpenku dimuat. Beberapa minggu sesudahnya sebuah artikel pendek juga dimuat. Senang sekali. Meski jika dibandingkan dengan senior lain yang tiap minggu tulisannya selalu terbit, tentu aku masih jauh.

Bagiku ada sesuatu di sana. Apalagi saat suatu semangat di Minggu pagi, ketika kawan-kawan saling bertanya dan memberikan informasi, tentang karya siapa yang berhasil menembus koran. Juga tentang semangat dan motivasi yang ditebar. Tak sekali dua kami mendapat sms dari ketua berisi kalimat, “Mari kita serbu koran di hari Minggu.” Aku tahu, masih harus banyak belajar. Tapi setidaknya, perlahan-lahan kini aku sedang dalam proses untuk “menjadi seperti mereka”, layaknya keinginanku ketika kecil dulu.

Oleh: Zikra Delvira
Anggota Forum Lingkar Pena Sumbar

Sumber: Ist





Tidak ada komentar:

Posting Komentar